Doaku Pada Tuhan


DOAKU PADA TUHAN


TANGISNYA masih belum mereda, dia masih tersedu sedu dibalik bantal biru, tak mau makan, berteriak teriak kesetanan, merasakan penderitaan dari balik kamar tiga kali empat meter, air matanya bercucuran perlahan, mengundang rasa iba.

Sudah empat bulan sejak kanker itu menggerogoti otaknya, menghancurkan saraf, matanya merah, penglihatannya buram, pendengarannya juga, hanya bisa berteriak teriak dibalik hening malam, dan terlelap saat pagi menjelang.

Aku mengelus rambutnya perlahan, mengecup dahinya, mencoba menenangkan, dini hari kali ini dia kembali memecah sunyi, pada awalnya, sempat mengusik waktu istirahat para tetangga setelah kami memutuskan untuk menjalani perawatan di Rumah, namun aku yakin mereka maklum melihat kondisi istriku yang sedang sakit.

“Ya Allah, Sembuhkanlah dia”

Doa-ku kembali dipenghujung malam ini, selalu sama. Tidak pernah berubah, bahkan sejak awal dia mengeluh pusing dan meronta ronta seperti anak bayi. Dia sudah agak tenang, kembali aku terbelut dalam tahajjud, bermunajat, kembali bercinta pada Allah, Zat yang menguasai segalanya. Padanya aku mengadu, padanya aku mengeluh…

***

Pagi itu tak ada yang berubah, selepas subuh, Gelas yang aku letakkan disamping tempat tidur berderai pecah, popoknya penuh rupanya, Ibu membantu mengganti popok, aku menenangkan Denis yang terjaga dari tidurnya.

Denis adalah anakku dari perkawinanku dengan istriku, Dewi. Usianya masih empat tahun, masih TK, hari ini awal masuk sekolahnya di TK nol besar.

“Ayah, bunda kenapa nangis nangis terus, denis pusing liat bunda laah” celotehnya pelan, mengerucutkan bibirnya.

“Bunda denis lagi sakit, sayang… Denis ngga boleh gitu, Denis sayang ngga dengan bunda?”

Denis diam tak menjawab, langsung mengambil robot robotan dan berkeliling rumah, berlari lari, sudah terperangkap dengan lautan imajinasi seorang bocah.

“Denis mandi sana sama nenek, denis sekolah ngga hari ini?”

Denis menoleh, tak juga menjawab, masih sibuk dengan robot-robotan yang baru saja aku belikan untuknya kemaren lusa.

***


“Denis, ayo kita berangkat ke sekolah, salam dulu sama bunda Denis” kataku sembari mengusap rambutnya lembut.

“Denis ngga mau salam sama bunda! Denis kan udah TK nol besarrr!!!” Denis berteriak didepan istriku yang sedang disuapi Makan oleh Ibu-ku, aku tersontak kaget, dia ngotot ngga mau, Ibu-ku menasehatinya untuk mencium tangan istriku, Denis tak juga mau, padahal sudah aku iming-imingi dengan Robot-robotan baru, dia langsung kabur, naik keatas sepeda motor yang sudah standby didepan rumah.

“Ya tuhan… Jadikan denis anak yang sholeh bagiku dan istriku…”

Doaku pada tuhan pagi ini.

***

Pagi ini, aku dan denis pergi ke sekolah denis yang juga melewati perkuburan tempat Ayahku dimakamkan, sudah kebiasaan kalau dia melewati perkuburan ini, dia akan berkata “Dadah kakeek” dengan tampang polos dan tidak tahu apa apa, Aku dan Dewi sudah mengajarinya sejak dia masih dalam buaian. Namun hari ini entah mengapa yang aku dengar dari mulut mungilnya adalah “Dadah bundaa”

Aku tercenung. Sebuah firasatkah?

“Ya tuhan… Apapun yang terjadi pada istri hamba, hamba akan mencoba ikhlas…”

Doaku kembali pada tuhan pagi ini.

***

Malam ini aku tahu dia akan dipanggil oleh-Nya, sudah kurasakan sejak tampang pasrah istriku terpapar di wajahnya. Segala macam pengobatan sudah kami lakukan untuk mengobati penyakit istriku, sampai menjalani pengobatan di negeri jiran tetangga, namun semua nihil, Kanker di dalam otak istriku sudah terlanjur parah, dokter sudah angkat tangan untuk penyakit yang diderita istriku ini…

Pukul dua. Dia mendadak sesak nafas, aku memakaikan oksigen kedalam mulutnya, dia kejang kejang, dibantu Ibu-ku, malam itu juga, kami menggotongnya ke rumah sakit dengan mobil.

Begitu sampai tepat didepan rumah sakit, Ibu-ku tiba tiba melafaskan “innalillah” sambil menangis, Dia sudah tiada, istriku yang sangat aku cintai sudah tiada…

“innalillahi wa inna ilaihi rojiun”

Doaku pada tuhan dini hari ini…

Comments

Popular Posts